Jumat, 30 April 2010

Asshoulatiyyah Azharu bilaady...

Siapa yang tidak heran melihat nasib salah satu madrasah ternama dan paling pertama di dirikan di tanah suci Makkah al-Mukarromah.. yaitu Madrasah Asshoulatiyyah yang sekarang ini justru posisinya di obok-obok oleh mereka yang hanya melihat ada perbedaan dalam persepsi mereka... padahal madrasah ini sejak awal mula didirikan dan sampai sekarang ini sudah banyak membeikan andil dalam peradaban kemajuan islam yang kita cintai ini.. kenapa tidak...?!!  bahwa madrasah ini sudah banyak mencetak para ulama yang terkemuka di semua penjuru dunia islam... mulai dari kota Makkah sendiri betapa banyak para ulama yang di lahirkannya di antaranya adalah Syeikh Yasin al-Fadany, beliau adalah figur ulama tersohor di semua bidang keilmuan agama terutama di bidang Asaanid (silsilah keilmuan) yang sampai sekarang ini beliau lebih terkenal dengan julukan musnidul 'alam yang semua sanad (silsilah keilmuan) merujuk kepada beliau... selain beliau ada lagi ulama-ulama lainnya seperti Syeikh Isma'il zein (tokoh ulama Syafiyyah terkemuka Makkah), Syeikh Abdullah al-Lahjy (tokoh ulama ahli hadits, fiqih dan sebagainya), Sayyid Muhammad bin Alawy al-Maliky (tokoh ulama karismatik ahli hadits pada zamannya), dan banyak lagi ulama-ulama yang lainnya.... namun yang di sayangkan sekarang ini justru posisinya tidak dihiraukan lagi... justru yang di lakukan adalah merusak dan menggeser posisinya yaitu pada tanggal 24 April 2010 M  bangunan lamanya yang berdekatan dengan Masjid al-Harom di hancurkan dan di pindahkan ke tempat yang jauh dari pusat kota Makkah... apa yang mereka inginkan..?? tidak lain adalah mereka ingin mnghilangkan jejak kemasyhuran madrasah mulia ini, yang lambat laun hanya terdengar dan tertulis dalam lembaran sejarah peradaban Makkah sendiri...padahal sekitar satu abad yang lalu Raja saudi yaitu malik Abdul Aziz sangat berbangga hati dengan keberadaanya sampai-sampai beliau pernah mengatakan "Asshoulatiyyah Azharu bilaady (madrasah Asshoulatiyyah adalah bunga/kebanggaan negeriku)...", dari sini timbul pertanyaan dengan misi yang di jalankan oleh orang-orang yang tidak senang dengan madrasah ini...apakah mereka dengan cara perlahan-lahan akan meniadakan madrasah ini seperti nasib ma'had-ma'had yang lainnya seperti ma'had al-Falah, ma'had Darul 'ulum, rubat al-Jufry (ma'had habib Zein bin Sumaith-Madinah al-Munawwaroh) yang sampai detik memberikan rasa kecewa bagi kaum muslimin.... dan sangat tidak masuk akal jika madrasah ini di hancurkan dan di pindah tempatnya dengan alasan perluasan Masjid dan sebagainya... akan tetapi sepintas kita perhtikan bahwa ada misi yang ingin mereka kembangkan... tentunya dengan membawa dan menanamkan persepsi yang hanya mereka inginkan... namun kekuatan pemerintahan berpihak kepada mereka... dan Inilah kenyataannya....

Sabtu, 20 Maret 2010

Jangn pernah menangis sekarang, karena tangisan anda ngga' pernah berarti selama anda masih menyalahkan orang lain... lihat apa yang pernah anda lakukan terhadapnya dan mereka menghindar dari anda... maka hidup ini cuma sekali itupun bayangan yang belum nyata terlihat, coba lihat pelangi..!! begitu indah dalam dalam pandangan seketika, namun ketika kita hendak menujunya justru tak ada satu warnapun yang akan setia menemui kita, bahkan dengan cepat dia menghindar....kalau begitu halnya, lantas siapa yang semestinyamenghilang duluan..?? kita yang pergi dari hidup, atau hidup yang sudah lenyap dan tidak mau lagi bersama kita..?? jawaban pasti sudah ada dalam hatikita, cobalah luangkan meski dalam sebuahtetes tangis ketika anda sujud... anda pastiterlihat sangatmulia

Jumat, 19 Maret 2010

Bermodalkan “Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Roji’un…..”

Banyak hal yang kita dapatkan dari perjalanan haji dan umroh, baik berupa pengalaman, nuansa berbagi antar sesama, mengajarkan kita kekompakan, kebersamaan, ukhuwwah dan  banyak lagi yang lainnya, namun untuk yang satu ini tidaklah bisa untuk di pisahkan terutama dari para jamaah haji kita Indonesia… banyak cerita menarik yang dapat kita ambil hiburan dan tawanya, salah satu sebabnya adalah keterbatasan sebagian di antara mereka dalam berbahasa arab, sungguh membuat kita tersenyum malah memberikan tawa dalam hati kita…..
Di suatu pemondokan (imaroh) jamaah haji yang tepatnya di wilayah Aziziyah bagian utara, dan kebetulan saya dan teman-teman lainnya waktu itu sedang bertugas untuk mengontrol kenyamanan jamaah haji pada kamar mereka masing-masing… setelah selesai mengontrol di  lantai paling atas seketika itu terlihat ada seorang laki-laki tua yang kelihatan tergesa-gesa mencari sesuatu dan hensak turun dari lantai pemondokannya,  kitapun bersama  turun dari lift…  dengan tenang kita menyapa dengan menanyakan kabarnya “gimana kabarnya pak…?”  Alhamdulillah baik…. Bapak sudah berumroh belum..? dia jawab Alhamdulillah sudah…. Namun ketika kita hendak menanyakan kenyamanannya di pemondokan itu, terasa cepat lift turun kebawah dan liftpun terbuka, kita sudah sampai di lantai dasar, kemudian orang tua itu langsung keluar dari lift dan bergegas mencari sesorang di lantai dasar itu, sayangnya kita (petugas) tidak sempat untuk menanyakannya dan diapun tidak sempat mengutarakan keluhannya kepada kita sebagai petugas haji…  tidak lama dari peristiwa itu saya dan teman-teman yang lainnya sedang duduk sambil ngobrol dengan seorang  mas’ul (penanggung jawab) pemondokan, tiba-tiba orang tua itu terlihat dari jauh sedang membawa dan mengajak seorang penjaga (haris) pemondokan itu untuk naik keatas laintainya dan kebetulan waktu itu penjaga pemondokan orang asal bangladesh….
Karena kelihatan ada masalah, akhirnya saya dan satu teman lain menyusulnya naik ke atas lantainya… setelah sampai di lantai paling atas… kita langsung menghampirinya dan masuk kekamarnya… dan ternyata orang tua itu sebenarnya ingin mengasih tau penjaga itu bahwa ada masalah pada  lampu kamarnya  yang tidak bisa hidup….. karena orang tua itu tidak bisa berbahasa arab di tambah dengan kebingungan… akhirnya di langsung menunjuk balon lampu yang di kamarnya itu dan mengatakan “Innalillahi wa Inna Ilaihi Roji’un…. Maut..maut…maut…”… seketika itu saya dan teman yang lain tersenymm di bumbui tawa dalam hati…. Dan langsung menghampiri penjaga itu dan menterjemahkan maksud orang tua tadi…. penjaga itu langsung pergi untuk mengambil balon lampu baru dan memasangnya….. setelah itu dengan pintar penjaga asal Bangladesh itu menghiburnya dengan berkata sambil beriisyarat dengan tangannya kepada orang tua itu….”maut kholash… malaikat maut ruhhh”. artinya “lampunya sudah nyala dan malaikat maut sudah bergegas pergi….” Orang tua itu sedikit faham dan langsung tertawa terbahak-bahak di ikuti teman sekamarnya…..

Kamis, 18 Maret 2010

Ahlan bimaulidirrasul....


Maulid nabi yang masyhur dalam kotroversi ulama tentang boleh tidaknya, hal ini tidak memberikan pengaruh besar untuk tetap menyelenggarakannya, hal ini bisa kita lihat di tanah suci Makkah al-Mukarromah dan tepatnya di daerah Rushaifah di adakan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam… di salah satu majlis ilmu yang sekarang berada dalam naungan dan bimbingan Sayyid Ahmad bin Muhammad al-Maliky al-Hasany, majlis ini adalah salah satu warisan besar tempat menimba berbagai ilmu agama teruatama ilmu hadits, ilmu tafsir, ilmu fiqih dan lan sebagainya…. Majlis ini awal mulanya di bina dan di besarkan tarbiyahnya oleh seorang ulama terkenal ahli hadits yaitu Sayyid Muhammad bin Alawy al-Maliky al-Hasany rohimahullah… dan sampai sekarang ini dari tahun-ketahun  di sana di adakan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam…. Acara ini terlihat ramai dengan  ratusan pendatang yang ikut serta dalam penyelenggaraannya, mulai dari penduduk makkah sendiri, ada juga yang dari negara yaman, mesir, syiria, turki, bahkan dari Indonesia pun ikut serta memadati acara maulid ini… dan di dalam acara ini di bacakan ayat-ayat suci al-Qur’an, di perdengarkan Siroh (perjalanan) singkat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, di bacakan sholawat nab,i juga di lantunkan berbagai jenis madh (pujian) kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam… diselain di daerah Rushaifah, ada juga majlis ilmu yang berada di Syari’ Manshur (salah satu daerah di Makkah) yang pada setiap tahunnya juga ikut andil dalam penyelenggaraan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam… majlis ini di pimpin langsung oleh seorang ulama kharismatik yaitu al-Habib Umar al-Jailany…. Di sana juga di lakukan hal serupa dengan acara yang di majlis Sayyid Ahmad al-Maliky al-Hasany…Dan banyak majlis-majlis lain di sekitar Makkah dan Madinah yang juga ikut serta dalam penyelenggaraan maulid ini……

Jumat, 12 Maret 2010

Berkat satu ayat al-Qur’an, seorang kusir keledai selamat dari pembunuhan…..

Imam Ibnu katsir dalam tafsirnya menyebutkan sebuah kisah yang di nukil dari imam Ibnu ‘Asaakir tentang seorang pengalau (kusir) keledai  yang selamat dari ancaman pembunuhan dari seorang penumpangnya, dan untuk lebih jelasnya mari kita simak kisahnya sbb :

“Dulunya ada seorang pengalau (kusir) keledai yang hanya mengambil upah dengan mengantar dan membawa penumpangnya… yang perjalanannya mulai dari  kota damskus dan akan menuju daerah Azzabdany…
Dan pada suatu harinya, ada seorang laki-laki yang ingin di antar ke suatu daerah yang satu rute dengan  daerah Azzabdany, dan kusir keledai itupun menyetujui kehendaknya…. Akhirnya mereka berdua berangkat  seperti biasanya dari damaskus….

Kemudian setelah jauh mereka berjalan dari damaskus…. Nampak di depan sana ada persimpangan jalan… yang tidak pernah di lalui oleh kusir keledai… akan tetapi lelaki penumpangnya itu minta supaya di antar melalui jalan tersebut… dia katakan kepada si kusir “wahai kusir keledai,.. alangkah baiknya engkau bawa aku melalui jalan ini, karena untuk menuju ke tempat tujuan kita, jauh lebih dekat dari sini…”, mendengar permintaan penumpangnya, kusir keledai itu menjawab seraya memperhatikan keselamatan penumpangnya : “maaf pak, jalan ini sungguh tidak pernah aku lalui dan tidak ada kabar sedikitpun ada orang yang sudah melewati jalan ini, aku khawatir nantinya kita akan tersesat jalan dan ada hal yang tidak kita inginkan…’’, dan dari belakang, lelaki itu menegaskan kembali keinginannya sambil menampakkan pengalamannya, dia balik berkata kepada si kusir keledai : “tidak apa-apa, hanya saja aku ingin perjalanan kita ini cepat sampai tujuan, karena jalan ini jauh lebih dekat dari jalan yang lainnya….”, setelah mendengar usulan dari penumpangnya, dengan penuh tawakkal kusir keledai itu menerima dan menjalankan sesuai kehendak penumpangnya…. Diapun membelokkan arah keledainya kejalan yang di maksudkan oleh lelaki itu…. Dan setelah jauh berjalan dari persimpangan… ternyata di depan sana hanyalah jalan yang sangat sulit dan tidak mungkin  untuk di lalui, bahkan kelihatan ada lembah jurang yang sangat berbahaya… di tempat itu juga kusir keladai melihat banyak mayat yang berbaringan layaknya telah terjadi  pertempuran….

Setelah keledainya di hentikan, laki-laki itu turun dari kereta sambil menghunus pedangnya dan hendak membunuh si kusir keledai…. Si Kusir keledaipun sangat takut dan lari terbirit-birit… lelaki itu tidak tinggal diam langsung lari mengejarnya, dan akhirnya kusir keledai itu terdahului dan mengalah sambil berkata “aku mohon jangan bunuh aku, biarkan keledai dan semuanya ambil untukmu…”, namun semua keluhannya tidak di terima oleh leleki itu… bahkan sebaliknya lelaki itu dengan sombong malah menggertaknya “memang, keledai dan semuanya ini adalah pasti jadi milikku akan tetapi targetku hanya satu ingin membunuhmu….”. mendengar gertaan yang serius dari lelaki itu si kusir takutnya minta ampun dan tidak ada jalan lain selain betawakkal dengan nasib malang menimpanya…..
Akhirnya si kusir keledaipun hanya bisa berkata “baiklah kalau itu memang maumu, aku hanya mengajukan permintaan terakhir sebelum kau membunuhku, berikan aku waktu sebentar untuk shalat dua rokaat, setelah itu terserah kehendakmu…”. Lelaki itupun memberikan waktu untuknya dan tetap menjaganya sambil memegang pedangnya hingga selesai sholatnya…..


Dengan waktu singkat yang di berikannya, akhirnya si kusir keledai memulai sholatnya… akan tetapi ketika dalam shalatnya, diapun tidak mengingat bacaan-bacaan biasa yang dia baca, apalagi ayat-ayat al-Qur’an yang lainnya… padahal banyak hafalan al-Qur’an  yang sudah dia hafal sebelumnya… hal itu karena perasaan sangat takut yang menyertainya…. Diapun hanya shalat dan berdiri sambil menyerahkan urusannya kepada Allah yang maha kuasa atas nasibnya…. Namun, setelah dia penuh penyerahan kepada Allah, dengan kuasa Allah SWT pula diapun hanya mengingat satu ayat yang sudah dia hafal sebelumnya yaitu ayat ke 62 dari surat Annaml sbb :

{ أَمْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ }

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi, Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)".


Dan setelah dia selesai  membaca ayat itu, anehnya muncul dari dalam lembah itu, seorang hamba Allah yang datang sambil memegang sebatang tombak yang kemudian melemparkannya langsung kedada lelaki yang akan membunuhnya…. Setelah itu lelaki itu langsung teriak kencang menahan sakitnya… dan akhirnya tewas seketika….
Kemudian setelah melihat keajaiban itu, si kusir keledai langsung menghampiri orang yang baru datang dari lembah itu seraya bertanya “Demi Allah, siapakah engkau ini….?? Orang  itupun menjawab : “aku ini adalah hamba Allah dari ayat yang engaku baca tadi…”.
Setelah itu si kusir langsung menuju keledainya dan pulang kembali ke damaskus dengan selamat……

Maha suci Allah yang meciptakan segala sesuatunya dengan penuh hikmah……

Catatan :
Kisah ini saya nukil dari Tafsir Ibnu Katsir dengan sedikit perubahan dan penambahan kalimatnya, dan untuk nash dan teks aslinya bisa di baca pada halaman 2152 pada jilid ke 3, yaitu pada tafsiran ayat ke 62 surat Annaml  dari tafsir tersebut…..

Kisah Syeikh Abdul Qodir al-Jailany dan dua orang sahabatnya….

Pada waktu Syeikh Abdul Qadir masih dalam usia muda, yaitu pada masa beliau menuntut ilmu, beliau memiliki dua teman dekatnya untuk belajar bersama, berdiskusi dan berbagi pengetahuan, kedua temannya itu adalah Ibnu Saqo’ dan Ibnu Abi Ushrun, Syeikh Abdul Qadir sengaja memilih mereka berdua sebagai teman belajarnya, karena kedua-duanya termasuk pemuda yang cerdas dan pintar , dengan maksud bisa membantunya dalam memuthola’ah pelajaran dan menyelesaikan permasalahan pelajaran sulit yang beliau dapatkan…
Suatu ketika beliau dan kedua temannya berkumpul dan mengadakan musyawaroh untuk menziarahi seorang alim sekaligus seorang waliyullah yang di beri julukan “al-Gouts” (derajat tertinggi kewalian) yang terkenal dengan keshalehan dan ibadahnya, dan orangpun banyak berdatangan dari berbagai daerah untuk menziarahinya… mendengar hal itu Syeikh Abdul Qadir sangat berkeinginan dan menyarankan kedua temannya untuk berziarah kepadanya… akhirnya setelah mereka sepakat untuk pergi berziaroh, Ibnu Saqo’ berkata bahwa “aku akan pergi kesana dengan maksud untuk menanyakan satu masalah yang rumit kepadanya, dan dengan pertanyaan itu akan membingungkannya untuk menjawab pertanyaanku….”, dan satu temannya yang lain yaitu Ibnu Abi Ushrunpun berkata : “dan aku akan pergi kesana dengan maksud akan bertanya sesuatu yang dia tidak akan bisa menjawabnya….”, setelah keduanya mengutarakan maksud ziarohnya, mereka (kedua temannya) menanyakan apa maksud  Syeikh Abdul Qadir pergi mendatanginya…. dengan tenang Syeikh Abdul Qadir menjawab : “dan aku aku pergi kesana hanya sekedar berziaroh (bersilaturrahim) dengannya, dan berharap mudah-mudahan dengan ziaroh ini akan memberikan suatu keberkahan dan kebaikan lahir-bathinnya… dan tidak ada sedikitpun maksud untuk menayakan satu masalahpun….”, kemudian setelah itu mereka bertiga langsung pergi bersama sambil membawa niat dan tujuannya masing-masing…
Dan setelah sampai di rumah al-gouts itu, satu di antara mereka mengetuk pintu rumahnya…. Dan waliyullah (al-gouts) itupun membukakan pintu untuk mereka bertiga, dan mempersilahkan mereka untuk masuk dan menyuruhnya untuk menunggu….
Terasa lama mereka bertiga menunggu akhirnya waliyullah itupun keluar dari kamarnya dan hendak menghampiri  tamunya yang baru datang menziarahinya… namun anehnya  ketika orang shaleh itu menemui mereka, diapun kelihatan sangat marah sambil mengarahkan pandangan dan menunjuk Ibnu Saqo’ seraya berkata : “adapun kamu wahai Ibnu Saqo’… kamu kesini datang menemuiku hanya bermaksud untuk mengujiku dengan permasalahan sulit, maka inilah jawabannya dan masalah ini di sebutkan dalam kitab ini  dan terdapat pada haalaman sekian…. “, dan tidak hanya itu al-gouts itu juga menambahkan penjelasan untuknya…  dan waliyullah itupun langsung membentak Ibnu Saqo’ dan menyuruhnya dia keluar seraya berkata “sesungguhnya aku melihat api kekafiran yang membara di setiap tulang rusukmu …”, setelah itu waliyullah itu langsung mengarah dan mengatakan kepada Ibnu Abi Ushrun “dan adapun kamu wahai Ibnu Abi Ushrun, kamu hanya datang kesini menemuiku dengan maksud untuk menanyakan masalah ilmiyyah dan ingin mendengarkan jawaban juga akan membandingkan  pendapatku…. Maka inilah jawabannya sekian, di sebutkan pada kitab sekian pada halaman sekian….”, Setelah itu waliyullah itupun menyuruhnya keluar sambil berkata : “sesungguhnya aku melihat kemewahan dunia dan terus menggerogotimu….”.
Setelah itu waliyullah itu langsung mengarah dan memandang Syeikh Abdul Qadir dengan penuh tenang terlihat senyuman sambil berkata : “adapun engkau wahai anakku Abdul Qadir, engkau hanya berniat mengharap keberkahan bertemu denganku, dan apa yang engkau niatkan Insya Allah akan engkau dapatkan…. Dan kehadiranmu seolah-olah aku merasakan bahwa kamu nantinya akan menjadi orang yang bermaqom/berkedudukan tinggi dan nantinya akan mengatakan “telapak kakiku ini berada di atas leher/pundak para wali…. dan setelah itu beliaupun di izinkan untuk keluar….
Kemudian dengan selang waktu yang tidak lama dari peristiwa itu, pada suatu hari Ibnu saqo’ di panggil untuk mengahadap kepada seorang raja pada masa itu, dan di suruh pergi menuju penguasa kaum nashrony untuk mengadakan debat dengan para cendikiwan kaum nashrony, karena pada saat itu penguasa atau pemimpin nashrony meminta kepada pemimpin kaum muslimin untuk mengutus salah seorang yang paling cerdas untuk mengadakan perdebatan di daerah kekuasaanya… maka di tunjukklah Ibnu saqo untuk mewakili kerajaan, karena dia di kenal sebagai cendikiwan cerdas yang berwawasan tinggi pada masanya…. dan setelah sampai di daerah kekuasaan kaum nashrony Ibnu saqo melihat seorang perempuan nashrony yang sangat cantik dan diapun tergila-gila pada perempuan itu… akhirnya Ibnu saqo mulai kehilangan kendali dari ajaran islam diapun dengan kecintaanya nekat dan pergi menemui orang tua perempuan itu dan ingin melamar dan mengawininya, setelah datang dan di sambut oleh keluarga perempuan itu, ibnu saqo mengutarakan maksud kedatangannya yaitu untuk melamar dan mengawini putrinya, dan setelah mendengar kemauan Ibnu saqo, dengan singkat orang tua perempuan itu menerima lamarannya namun dengan syarat Ibnu saqo harus memeluk agama nashrony, dan seketika itu nafsu dan kecintaannya membuat Ibnu saqo tenggelam dalam kekufuran dan akhirnya setuju dan bersiap untuk memeluk agama nashrony, diapun tidak lama kemudian sudah keluar dari islam dan memilih kawin bersama perempuan pujaan hatinya…. Na’udzubillah min dzaalik……
Selanjutnya dalam waktu yang sama teman syeikh Abdul Qadir yang satunya lagi yaitu Ibnu Abi Ushrun, di panggil oleh pihak kerajaan dan di percayakan untuk menangani masalah waqaf dan pajak milik kerajaan, dan dari sebab itu, lama kelamaan terlena dengan kekayaan dan diapun terkalahkan oleh kenikmatan dan kemewahan dunia…. kemudian setelah dia memiliki jabatan dan kekayaan, diapun sempat sadar dengan keadaanya yang begitu berubah dari sebelumnya…Ibnu Abi Ushrun masih ingat dan berfikir  bahwa hal ini adalah bagian dari jawaban dan do’a dari al-gouts/waliyullah itu…..
Adapun Syeikh Abdul Qadir al-Jailany dengan berkat niat dan maksud baiknya di tambah dengan do’a dari waliyullah itu beliaupun semakin berubah, beliau sibuk mendekatkan dirinya kepada Allah SWt, berbudi tinggi, berakhlaq mulia, sampai pada derajat kewaliyan yang tinggi pula… dan beliaupun dalam hayatnya sempat berkata bahwa “telapak kakiku ini berada di atas leher/pundak para wali….”, yang kurang lebih maksudnya adalah bahwa derajat beliau jauh melebihi derajat wali-wali yang lainnya….

Maha suci Allah yang telah memilih dari hamba-Nya yang benar-benar ikhlas menuju jalan-Nya….

(Di nukil dari kitab Tuhfatul Asyrof bi jaami’ kalam al-Habib Muhammad bin Hadi Assaggaf Rohimahullah ).

Makkah al-Mukarromah :                                                                        
Senin : 20 Rabi’ul Awwal 1431 H / 07 Maret 2010 M.

Jumat, 05 Maret 2010

Abu Yusuf Al-Bagdady dan akhir hayatnya...


Abu Yusuf al-Bagdady adalah sosok ulama terkenal yang arif bijaksana dan penuh wibawa, nama beliau selalu harum dengan seribu hikmah dan suri teladan yang di milikinya… nama lengkap beliau adalah ya’qub bin Ibrahim al-Anshry al-Bagdady Rohimahullah…. Beliau di lahirkan pada tahun 113 H dan wafat pada tahun 182 H… beliau juga salah satu dari kawan seperjungan sekaligus murid dari Imam Abu Hanifah Rohimahullah, dari tangan beliaulah islam di segani dan menyebar baik di kalangan kerajaan maupun masyarakat sekitarnya… beliau begitu gigih dalam menegakkan kebenaran terutama penyebaran mazhab Abu Hanifah… dengan kemahiran dan keluasan ilmunya beliau di percayakan dan di angkat menjadi Qody hakim pada kurun pemerintahan dinasti Abbasiyah…  dan menurut lembaran dan sumber sejarah bahwa beliau adalah orang yang pertama kali yang mendapatkan gelar kehormatan dengan sebutan “Qody al-Qudoh” yaitu ulama berilmu luas sekaligus menjabat sebagai hakim terkemuka……
Kisah dan perjalanan hidup beliau sangat patut untuk di perdengarkan terutama bagi para pelajar “Tullabul Ilmi” yang selalu haus dengan kebenaran walau dengan sebutir hikmah yang di titipkan oleh Abu Yusuf al-Bagdady Rohimahullah…..
Para sejarawan telah mencatat bagaimana figure tersohor ini sangat optimis dalam membina dan mengajarkan agama pada kaum muslimin yang ada pada masanya…. Terlihat dengan kegigihan beliau dalam menaburkan benih keislaman sungguh maenjadi bukti kebesaran jiwanya, di sana kita akan membaca dan mendengar bahwa  dengan waktu yang di jalaninya tidaklah pernah ada kekosongan, waktunya selalu di isi dengan berbagi pengetahuan tentang islam, mengajar dan memberi fatwa, bersosialisasi dengan masyarakatnya, dan lebih dari itu beliau manfaatkan waktunya untuk beribadah kepada Allah SWT, dan dari sekian kisah dari hidupnya beliau memberingat semangat juang yang tinggi bagaikan mutiara penting yang di selipkan oleh beliau ketika hendak menghabisi waktunya, beliau tanamkan satu prinsip kepada ummat untuk selalu bermudzakaroh, berbagi pengetahuan tentang islam walaupun sampai batas ajal menjemputnya….
Pernah di ceritakan oleh salah satu muridnya yaitu syeikh Ibrahim bin Al-Jarroh al-Kufy Rohimahullah, dalam kisahnya beliau mengatakan : “bahwa pada suatu hari ketika Abu Yusuf al-Bagdady sedang sakit keras, ketika itu akupun pergi ke rumahnya untuk berziarah dan menjenguknya, pada saat aku sampai di rumahnya terlihat beliau dalam keadaan tidak sadarkan diri di akibatkan sakit yang di deritanya, dan dalam selang waktu aku berada di sampingnya beliau sempat sadarkan diri, dan anehnya setelah beliau melihatku berada di sampingnya, beliau malah mengutarakan sutu masalah fiqih kepadaku, beliau berkata : “ya Ibrahim, bagaimana pendapatmu tentang suatu masalah fiqih…?”, Mendengar perkataan itu aku kembali menenangkan beliau sambil berkata wahai guruku Abu Yusuf… dalam keadaan seperti ini engkau masih bermudzakaroh denganku…?? Beliau menjawab : “tidak masalah, mudah-mudahan dengan mudzakaroh ini aku di sembuhkan oleh Allah dari sakit ini…”, kemudian beliau mengutarakan sebuah pertanyaan : “wahai Ibrahim, mana lebih afdhal ketika kita melontar jamarot pada saat ibadah haji, apakah kita melontar dengan berjalan kaki atau melontar di atas kendaraan..? maka seketika itu aku menjawab : lebih afdhal dengan memakai kendaraan, dan beliaupun langsung mengatakan : jawabanmu salah, selanjutnya aku jawab dengan alternative kedua yaitu berjalan kaki lebih afdhal… beliau juga mengatakan salah… lalu aku langsung menanyakan jawabannya yang benar…. Dengan tenang beliau menjawab sambil memberikan tafshilnya : “bahwa jika orang yang melontar  kemudiaan akan berdiri di sampingnya untuk berdo’a setelahnya, maka dalam hal ini lebih baik melontar dengan berjalan kaki, namun jika dia melontar tanpa berdo’a padanya, maka dalam hal ini lebih baik melontar di atas kendaraan……
Kemudian setelah mendengar jawaban beliau akupun minta pamit darinya, namun setelah aku bangun dari tempat dudukku dan hendak keluar, dan aku belum sampai pada pintu rumahnya, aku mendengar teriakan bahwa beliau Rohimhullah meninggal dunia….”. Innalillahi wainna ilahi rooji’un….”.
Subhanalloh….
Begitu mulia perjalanan dan akhir hidup Abu Yusuf ini, beliau memulainya dengan menuntut ilmu, mengisinya dengan berbagi ilmu, berda’wah dan beribadah dan mengakhirinya dengan ilmu, hikmah dan suri teladan yang sangat berharga….

Makkah al-Mukarromah
Kamis : 18 Robi’ul Awwal 1431 H /
              04 Maret  2010 M.